• Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
duravaz-logo-orange-standard-transparent
  • Home
  • Products
  • Why Choose Duravaz
  • Business Opportunity
  • Articles
  • FAQ
  • Contact
  • Home
  • Products
  • Why Choose Duravaz
  • Business Opportunity
  • Articles
  • FAQ
  • Contact

Heavy Duty

Oil Resistant dan Chemical Resistant Rubber Conveyor Belt: Fungsi, Material, Aplikasi, dan Standar Internasional

October 7, 2026 by IT-Duravaz

  1. Pendahuluan

Rubber conveyor belt pada umumnya dirancang untuk membawa material seperti batu bara, batu kapur, pasir, bijih tambang, clinker, semen, atau material bulk lainnya. Namun pada beberapa aplikasi, belt tidak hanya menerima beban mekanis dan abrasi, tetapi juga bersentuhan dengan minyak, grease, bahan bakar, pelarut, asam, alkali, bahan kimia proses, atau cairan agresif lainnya.

Dalam kondisi tersebut, penggunaan rubber conveyor belt general purpose dapat menyebabkan cover belt mengalami:

    • swelling atau pengembangan,
    • pelunakan,
    • pengerasan,
    • retak,
    • kehilangan tensile strength,
    • kehilangan elongation,
    • delaminasi,
    • sticky surface,
    • perubahan dimensi,
    • accelerated wear,
    • hingga kerusakan premature.

Karena itu digunakan oil resistant conveyor belt (OR belt) atau chemical resistant conveyor belt.

Hal yang perlu diperhatikan: sampai saat ini tidak terdapat satu standar ISO khusus yang secara sederhana mengatakan bahwa sebuah conveyor belt adalah “oil resistant grade A, B, C” atau “chemical resistant grade tertentu”. Untuk ketahanan terhadap cairan, industri banyak menggunakan ISO 1817 atau ASTM D471 sebagai metode pengujian material karet. ISO/TR 7620 memberikan referensi mengenai perilaku berbagai material karet terhadap bahan kimia. (Fenner Dunlop Conveyor Belting)

  1. Apa yang dimaksud Oil Resistant Conveyor Belt?

Oil resistant conveyor belt adalah conveyor belt yang cover karetnya diformulasikan agar memiliki ketahanan lebih baik terhadap minyak, grease, fuel, dan material yang mengandung minyak atau lemak.

Minyak dapat masuk ke dalam struktur polymer rubber. Akibatnya, rubber dapat mengalami perubahan volume dan sifat mekanis.

Secara sederhana:

Oil → penetrasi rubber → swelling/softening → perubahan sifat mekanis → wear dan kerusakan belt

Pada conveyor biasa, efek tersebut dapat menyebabkan belt:

    1. mengembang,
    2. menjadi lebih lunak,
    3. kehilangan kekuatan,
    4. permukaannya menjadi sticky,
    5. lebih mudah mengalami gouging dan abrasion,
    6. mengalami tracking problem,
    7. dan akhirnya umur belt menjadi pendek.

Fenomena ini sangat penting pada aplikasi seperti:

    • palm oil mill,
    • biomass,
    • recycling plant atau daur ulang
    • municipal waste (pengelolaan sampah)
    • pupuk
    • chemical plant,
    • coal handling dengan kontaminasi oil,
    • wood processing,
    • feed mill tertentu,
    • automotive manufacturing,
    • dan material yang mengandung vegetable oil atau animal fat.
  1. Tidak Semua “Oil” Memberikan Efek yang Sama

Ini merupakan salah satu kesalahan paling umum dalam pemilihan oil resistant belt. Istilah oil resistant tidak berarti belt tahan terhadap semua jenis minyak.

Secara umum minyak dapat berasal dari:

    • Mineral oil

Contohnya:

      • hydraulic oil,
      • lubricating oil,
      • mineral oil,
      • petroleum-based oil,
      • diesel,
      • beberapa fuel dan hydrocarbon.

    • Vegetable oil

Contohnya:

      • palm oil,
      • soybean oil,
      • sunflower oil,
      • corn oil,
      • coconut oil.

    • Animal fat

Contohnya:

      • animal fat
      • tallow,
      • grease berbasis lemak.

Karakteristik masing-masing berbeda. Karena itu supplier sebaiknya tidak hanya menerima permintaan:

“Saya membutuhkan oil resistant belt.”

Lebih baik diberikan informasi:

“Material mengandung palm oil sekitar X%, temperatur material X °C, belt speed X m/s.”

Dengan demikian compound rubber dapat dipilih dengan lebih tepat.

  1. Apa yang Dimaksud Chemical Resistant Conveyor Belt?

Chemical resistant conveyor belt adalah belt yang cover-nya diformulasikan agar lebih tahan terhadap serangan bahan kimia tertentu.

Chemical resistance dapat mencakup:

    • acid,
    • alkali,
    • salt solution,
    • chemical solution,
    • solvent tertentu,
    • aqueous solution,
    • dan bahan kimia proses lainnya.

Namun chemical resistant bukan berarti universal chemical resistant.

Sebuah rubber bisa sangat baik terhadap acid tertentu tetapi buruk terhadap solvent tertentu.

Contohnya:

Chemical

Potensi masalah pada rubber

Strong acid

degradation, hardening/softening

Strong alkali

swelling/degradation

Solvent

swelling atau dissolution

Hydrocarbon

swelling

Oxidizing chemical

oxidation

Hot chemical solution

accelerated degradation

Salt solution

biasanya lebih ringan, tetapi tergantung konsentrasi & temperatur

Karena itu pemilihan chemical resistant belt harus berdasarkan jenis bahan kimia, konsentrasi, temperatur dan lama kontak, bukan hanya berdasarkan nama “chemical resistant”.

  1. Perbedaan Oil Resistant dan Chemical Resistant

Parameter

Oil Resistant

 

Chemical Resistant

 

Target utama

Oil, grease, fat, fuel

Acid, alkali, solvent, chemical

Risiko utama

Swelling & softening

Chemical degradation

Aplikasi umum

Palm oil, recycling, biomass

Chemical, fertilizer, process plant

Material rubber

NBR-based atau special compound

CR, EPDM, CSM, FKM atau compound khusus

Pengujian

ISO 1817 / ASTM D471

ISO 1817 / ASTM D471

Pemilihan

Berdasarkan jenis oil

Berdasarkan jenis chemical

Temperatur

Sangat berpengaruh

Sangat berpengaruh

Konsentrasi chemical

Tidak terlalu relevan untuk oil tertentu

Sangat penting

  1. Material Rubber yang Digunakan

Pemilihan polymer merupakan bagian paling penting dari desain cover.

    • NBR — Nitrile Butadiene Rubber

NBR merupakan salah satu material yang sangat dikenal untuk oil resistance.

Kelebihannya:

      • good resistance terhadap mineral oil,
      • good resistance terhadap grease,
      • relatively good abrasion resistance,
      • cocok untuk aplikasi oil-contaminated material.

Karena itu NBR banyak digunakan pada aplikasi conveyor yang memerlukan oil-resistant cover.

Namun NBR bukan solusi universal untuk semua chemical.

    • CR — Chloroprene Rubber / Neoprene

CR memiliki kombinasi sifat yang cukup baik terhadap:

      • oil,
      • weathering,
      • ozone,
      • flame,
      • dan beberapa chemical.

CR juga banyak digunakan pada aplikasi yang membutuhkan kombinasi beberapa sifat sekaligus.

Pada aplikasi tertentu, CR dapat digunakan ketika dibutuhkan kompromi antara oil resistance, weather resistance dan flame resistance.

    • EPDM

EPDM sangat dikenal karena ketahanannya terhadap:

      • ozone,
      • weathering,
      • hot water,
      • steam,
      • berbagai aqueous chemical,
      • beberapa acid dan alkali.

EPDM bukan pilihan utama untuk mineral oil, karena kompatibilitasnya terhadap hydrocarbon oil relatif buruk dibanding NBR.

Namun untuk chemical/water-based applications, EPDM dapat menjadi pilihan yang sangat menarik.

    • CSM / Chlorosulfonated Polyethylene

CSM memiliki resistance yang baik terhadap:

      • ozone,
      • weather,
      • oxidation,
      • beberapa chemical,
      • acid,
      • alkali.

CSM dapat digunakan pada aplikasi chemical tertentu ketika diperlukan ketahanan lingkungan yang lebih luas.

    • FKM

FKM mempunyai chemical dan temperature resistance yang sangat tinggi pada berbagai aplikasi khusus.

Namun:

      • harga relatif tinggi,
      • tidak selalu diperlukan untuk conveyor belt,
      • biasanya digunakan hanya ketika chemical environment memang menuntut compound khusus.

Jadi FKM lebih merupakan specialty material, bukan pilihan standar untuk semua conveyor chemical.

  1. Standar Internasional untuk Oil Resistant Conveyor Belt

Di sinilah diperlukan sedikit kehati-hatian.

ISO 1817

Standar yang sangat penting adalah:

ISO 1817 — Rubber, vulcanized or thermoplastic — Determination of the effect of liquids.

ISO 1817 digunakan untuk mengevaluasi bagaimana rubber berubah setelah terkena liquid.

Versi terbaru yang diterbitkan pada Agustus 2026 adalah ISO 1817:2026. Standar tersebut mencakup pengujian terhadap berbagai service liquids, termasuk petroleum derivatives, organic solvents dan chemical reagents. (ISO)

Parameter yang dapat diamati antara lain:

    • change in mass,
    • change in volume,
    • dimensional change,
    • tensile strength,
    • elongation,
    • hardness,
    • dan perubahan sifat fisik lainnya.

Dengan demikian ISO 1817 sangat relevan untuk oil resistance maupun chemical resistance.

  1. ASTM D471

Standar Amerika yang sangat umum digunakan adalah:

ASTM D471 — Standard Test Method for Rubber Property—Effect of Liquids.

ASTM D471 digunakan untuk mengevaluasi kemampuan rubber menghadapi pengaruh liquid. ASTM secara eksplisit menyebutkan aplikasinya pada rubber yang terpapar oil, grease, fuel dan berbagai fluid lainnya. (ASTM International)

Pengujian dapat mengevaluasi:

    • perubahan massa,
    • perubahan volume,
    • perubahan dimensi,
    • tensile strength,
    • elongation,
    • hardness,
    • breaking resistance,
    • tear strength,
    • adhesion untuk coated fabric.

ASTM D471 juga menggunakan reference oils seperti IRM 901, IRM 902 dan IRM 903 untuk pengujian tertentu. (ASTM International)

Jadi untuk spesifikasi belt, kalimat seperti berikut cukup baik:

Cover rubber shall be tested for resistance to specified oil in accordance with ISO 1817 or ASTM D471.

Ini jauh lebih informatif dibanding hanya menuliskan:

Oil resistant according to DIN 22102 G.

  1. Bagaimana dengan DIN 22102 G?

Ini sangat penting karena istilah DIN 22102 G cukup sering ditemukan pada katalog conveyor belt.

Huruf G sering digunakan untuk menunjukkan belt dengan oil/grease resistance.

Tetapi terdapat satu masalah:

DIN 22102 G bukan berarti terdapat suatu metode pengujian oil resistance lengkap dengan batas performa universal yang ditetapkan oleh DIN 22102.

Fenner Dunlop, misalnya, menjelaskan bahwa banyak manufacturer menggunakan DIN 22102 G sebagai designation oil-resistant belting, tetapi DIN 22102 G sendiri tidak menetapkan requirement, test method atau performance limits khusus untuk oil-resistant belt. (Fenner Dunlop Conveyor Belting)

Jadi buyer sebaiknya meminta test report, bukan hanya designation “G”.

 

  1. Standar untuk Chemical Resistant Rubber

Untuk chemical resistance, standar yang sangat berguna adalah:

ISO/TR 7620:2005

Rubber materials — Chemical resistance

Dokumen ini memberikan sistem klasifikasi dan informasi mengenai chemical resistance berbagai rubber material.

ISO/TR 7620 membahas perilaku rubber terhadap:

    • acids,
    • alkalis,
    • aqueous solutions,
    • oil,
    • solvents,
    • aggressive gases,
    • dan berbagai chemical lainnya. (ISO)

Statusnya saat ini masih current; ISO mencatat bahwa dokumen tersebut terakhir ditinjau dan dikonfirmasi pada 2024. (ISO)

Namun perlu diperhatikan bahwa ISO/TR 7620 bukan standar khusus conveyor belt. Ini adalah technical report mengenai material rubber.

Karena itu kombinasi yang lebih tepat adalah:

Conveyor belt specification + ISO 1817 testing + ISO/TR 7620 chemical compatibility reference.

  1. Standar Conveyor Belt Secara Umum

Untuk belt textile construction, standar conveyor belt umum yang relevan adalah ISO 14890.

ISO mencantumkan ISO 14890:2026 sebagai standar untuk rubber- atau plastics-covered conveyor belts of textile construction for general use. (ISO)

Artinya, standar tersebut dapat digunakan untuk aspek umum belt, sedangkan ketahanan terhadap liquid perlu dispesifikasikan dan diuji secara khusus.

Dengan demikian, jangan menyamakan:

ISO 14890 = chemical resistant standard

atau

ISO 14890 = oil resistant standard.

Itu tidak tepat.

  1. Tabel Standar yang Sebaiknya Digunakan
Standar Fokus Oil Resistance Chemical Resistance Conveyor Belt Specific?
ISO 1817:2026 Effect of liquids on rubber ★★★★★ ★★★★★ Tidak khusus
ASTM D471-16a(2021) Effect of liquids on rubber ★★★★★ ★★★★ Tidak khusus
ISO/TR 7620:2005 Chemical resistance rubber ★★★ ★★★★★ Tidak
ISO 14890:2026 General textile conveyor belt ★ ★ Ya
DIN 22102 General conveyor belt specification/designation ★★ ★ Ya
DIN 22102 G Common industry designation for oil/grease-resistant belt ★★★ — Ya, tetapi bukan complete oil-performance test

ASTM D471 yang tercantum di atas merupakan versi aktif yang tercatat ASTM sebagai D471-16a(2021). (ASTM International)

 

 

  1. Bagaimana Cara Memilih Oil Resistant Belt?

Jangan mulai dari:

“Pilih NBR.”

Mulailah dari kondisi aplikasi.

Step 1 — Tentukan jenis oil

Misalnya:

    • palm oil,
    • mineral oil,
    • diesel,
    • hydraulic oil,
    • animal fat,
    • grease

Step 2 — Tentukan temperatur

Contoh:

30–40°C

sangat berbeda dengan:

100–120°C.

Temperature mempercepat chemical attack dan aging rubber.

Step 3 — Tentukan cara kontak

Apakah:

    • continuous contact,
    • intermittent contact,
    • occasional splash,
    • material hanya mengandung sedikit oil?

Step 4 — Tentukan abrasion

Ini penting.

Oil-resistant rubber belum tentu mempunyai abrasion resistance terbaik.

Misalnya material:

crushed palm kernel + oil

memerlukan kombinasi:

oil resistance + abrasion resistance.

Step 5 — Minta test report

Idealnya supplier memberikan:

    • rubber compound,
    • test liquid,
    • test temperature,
    • test duration,
    • volume/mass change,
    • tensile change,
    • elongation change,
    • hardness change.

 

  1. Bagaimana Memilih Chemical Resistant Belt?

Untuk chemical application, informasi berikut sebaiknya diberikan kepada supplier:

    • Nama chemical

Contoh:

      • H₂SO₄,
      • HCl,
      • NaOH,
      • KOH,
      • sodium hypochlorite,
      • solvent,
      • fertilizer solution.

    • Konsentrasi

Misalnya:

H₂SO₄ 10%

sangat berbeda dengan:

H₂SO₄ 80%.

    • Temperatur

Contoh:

40°C vs 90°C

dapat memberikan hasil yang sangat berbeda.

    • Bentuk kontak

Apakah:

      • dry chemical,
      • powder,
      • slurry,
      • liquid,
      • splash,
      • immersion,
      • continuous exposure?
    • Waktu kontak

Misalnya:

      • 5 menit,
      • 1 jam,
      • 8 jam,
      • continuous
  1. Contoh Pemilihan

Misalnya sebuah conveyor membawa material fertilizer yang mengandung larutan kimia.

Data:

    • capacity = 150 ton/hour,
    • belt width = 800 mm,
    • belt speed = 1.5 m/s,
    • material temperature = 50°C,
    • chemical = acidic solution,
    • concentration = 10%,
    • continuous exposure.

Dalam kondisi seperti ini, pemilihan belt sebaiknya tidak hanya:

EP 400/3, Grade M.

Tetapi spesifikasinya harus mencakup:

EP 400/3 + chemical-resistant cover + resistance verified against the specified chemical.

Kemudian supplier diminta memberikan:

ISO 1817 test data against the actual chemical or an agreed representative test liquid. Ini jauh lebih aman secara engineering daripada hanya mengandalkan nama compound.

  1. Oil Resistant Bukan Berarti Chemical Resistant

Ini juga merupakan kesalahan yang cukup sering terjadi.

Misalnya sebuah belt mempunyai:

NBR oil-resistant cover.

Tidak otomatis berarti belt tersebut cocok untuk:

    • concentrated acid,
    • strong alkali,
    • solvent,
    • oxidizing chemical.

Sebaliknya, belt berbasis EPDM yang sangat baik terhadap beberapa acid/alkali juga tidak otomatis menjadi pilihan terbaik untuk mineral oil.

Karena itu:

Oil resistance dan chemical resistance harus diperlakukan sebagai dua parameter spesifikasi yang berbeda.

    1. Bagaimana Cara Menguji Rubber terhadap Oil/Chemical?

Secara sederhana, proses pengujian dapat digambarkan:

Initial rubber sample

↓

Measure initial properties

↓

Immerse in specified liquid

↓

Specified temperature & duration

↓

Remove sample

↓

Measure properties again

↓

Bandingkan:

    • mass,
    • volume,
    • hardness,
    • tensile strength,
    • elongation,
    • dimensional change.

Sebagai contoh sederhana, apabila volume awal:

100 cm³

dan setelah immersion:

115 cm³

maka volume swelling:

Nilai ini kemudian dibandingkan dengan acceptance criteria yang disepakati.

Penting: angka acceptance limit tidak boleh dibuat sendiri hanya berdasarkan ISO 1817. ISO 1817 adalah metode untuk menentukan efek liquid; spesifikasi produk harus menentukan kriteria penerimaannya.

  1. Faktor Selain Rubber Compound

Memilih cover compound saja belum cukup.

Umur oil/chemical-resistant conveyor belt juga dipengaruhi oleh:

Belt thickness

Semakin berat kondisi aplikasi, cover thickness perlu diperhatikan.

Belt speed

Speed tinggi meningkatkan:

    • heat generation,
    • flexing,
    • Wear.

Pulley diameter

Pulley terlalu kecil dapat mempercepat fatigue.

Trough angle

Belt dengan chemical/oil-resistant cover tetap harus memiliki flexibility yang sesuai dengan sistem idler.

Belt cleaner

Cleaner yang terlalu agresif dapat merusak cover.

Splice

Splice material juga harus compatible dengan chemical/oil.

Ini sering terlupakan.

Cover belt tahan chemical tetapi splice adhesive tidak tahan chemical → splice tetap dapat gagal.

  1. Bagaimana Menulis Spesifikasi Pengadaan?

Daripada menulis:

“Supply oil resistant conveyor belt.”

lebih baik:

Rubber conveyor belt with oil-resistant cover suitable for continuous contact with [jenis oil/material], operating temperature [X] °C, tested in accordance with ISO 1817 or ASTM D471, with test results demonstrating compliance with the agreed change-in-volume, tensile strength, elongation and hardness criteria.

Untuk chemical:

Rubber conveyor belt with chemical-resistant cover suitable for continuous exposure to [chemical], concentration [X]%, at [X] °C, with compatibility verified in accordance with ISO 1817 and/or supported by ISO/TR 7620 chemical resistance data.

Spesifikasi seperti ini jauh lebih kuat daripada hanya menulis:

DIN 22102 G.

  1. Kesimpulan

Untuk oil resistant conveyor belt, standar pengujian yang paling relevan adalah:

ISO 1817:2026

untuk menentukan pengaruh liquid terhadap rubber.

Alternatif yang sangat umum adalah:

ASTM D471-16a(2021)

Keduanya dapat digunakan untuk mengevaluasi perubahan sifat rubber setelah kontak dengan oil, fuel, grease dan liquid lainnya. (ISO)

Untuk chemical resistant conveyor belt, pendekatan yang paling tepat adalah kombinasi:

ISO 1817:2026 + ISO/TR 7620:2005 + spesifikasi conveyor belt yang relevan.

ISO/TR 7620 memberikan informasi mengenai kompatibilitas berbagai rubber terhadap acid, alkali, aqueous solution, oil dan solvent. (ISO)

Sedangkan untuk konstruksi/general specification conveyor belt textile, ISO 14890:2026 merupakan standar penting yang saat ini tercantum dalam katalog ISO untuk general-use textile conveyor belts. (ISO)

Hal paling penting: jangan hanya meminta supplier menyebut “oil resistant” atau “chemical resistant”. Mintalah jenis rubber compound, chemical/oil yang diuji, temperatur, durasi pengujian, perubahan volume/massa, tensile strength, elongation, hardness, serta test standard yang digunakan.

Dengan pendekatan tersebut, pemilihan belt menjadi jauh lebih dapat dipertanggungjawabkan secara engineering dibanding hanya memilih berdasarkan kode seperti DIN 22102 G. Fenner Dunlop juga secara khusus mengingatkan bahwa designation DIN 22102 G sendiri tidak menetapkan batas performa oil resistance yang spesifik. (Fenner Dunlop Conveyor Belting)

Catatan standar terkini: ISO menerbitkan revisi ISO 1817:2026 pada Agustus 2026, sehingga untuk spesifikasi baru sebaiknya merujuk edisi 2026, bukan otomatis menggunakan ISO 1817:2015 yang masih banyak tercantum dalam katalog lama. (ISO)

Untuk kebutuhan rubber conveyor belts oil resistant atau chemical resitant berkualitas standar Internasional namun tetap ramah budget produksi DURABELT dari Duravaz  adalah solusi tepat. Sampaikan secara detil jenis dan karakteristik material yang diangkut serta kualifikasi teknis yang dibutuhkan rubber conveyor belt kepada tim kami untuk penawaran harga. Rubber conveyor DURABELT dari Duravaz dapat diperoleh melalui pemesanan terlebih dahulu di Central Technic Jakarta, maupun Central Technic Jakarta

 

Filed Under: Conveyor Belt, Heavy Duty, Material Handling Tagged With: conveyor belt, industri, material handling, Rumus

RUBBER CONVEYOR BELTS PADA INDUSTRI PAKAN TERNAK (BAGIAN 2): MENJAGA BELT TETAP OPTIMAL

September 9, 2026 by Duravaz

 

  1. Tips agar bucket elevator tahan lama

Ini bagian yang sangat penting untuk feed mill.

    • Jangan overload

Elevator yang terus bekerja di atas rated capacity akan menyebabkan:

      • belt tension meningkat
      • bearing panas
      • gearbox overload
      • bucket bolt fatigue
      • belt elongation
    • Pastikan loading bucket benar

Material harus masuk ke bucket dengan flow yang baik.

Loading yang buruk menyebabkan:

      • bucket tidak penuh
      • material tumpah
      • bucket impact
      • material masuk ke casing
    • Jangan terlalu banyak clearance

Clearance antara:

      • bucket
      • casing
      • pulley

harus sesuai desain.

Terlalu kecil:

bucket bisa menyentuh casing.

Terlalu besar:

material dapat jatuh kembali.

  1. Periksa bucket bolt secara berkala

Bucket elevator mengalami cyclic loading.

Bolt bucket dapat mengalami:

    • loosening
    • fatigue
    • corrosion
    • wear

Gunakan:

    • high-strength bolt sesuai desain
    • locking system yang tepat
    • torque sesuai rekomendasi manufacturer

Jangan mengganti bolt dengan bolt biasa hanya karena ukurannya sama.

  1. Periksa belt tracking

Belt harus berada di tengah.

Jika belt bergerak ke kiri/kanan:

jangan langsung mengubah alignment pulley secara sembarangan.

Periksa:

    • pulley alignment
    • shaft alignment
    • take-up
    • loading
    • belt splice
    • bucket mounting

Belt mistracking yang dibiarkan dapat menyebabkan belt edge rusak.

  1. Gunakan belt alignment sensor

Untuk feed mill modern, sangat dianjurkan menggunakan:

Belt misalignment switch

Sensor akan mendeteksi ketika belt bergeser terlalu jauh.

Dapat dihubungkan dengan:

PLC → alarm → automatic shutdown

Hal ini sangat penting karena elevator berada di dalam casing dan masalah belt sulit terlihat secara langsung.

  1. Gunakan speed sensor

Pasang:

zero-speed / underspeed sensor

Jika belt putus atau slip sehingga kecepatannya turun drastis, sistem dapat menghentikan motor.

Ini dapat mencegah:

    • material menumpuk
    • bucket bertabrakan
    • belt terbakar akibat slip
    • kerusakan besar
  1. Backstop sangat penting

Jika elevator menggunakan gearbox motor pada posisi vertikal/lift tertentu, perlu dipertimbangkan:

backstop / holdback device

Tujuannya mencegah elevator berputar balik ketika power mati.

Jika elevator berisi material dan belt bergerak mundur, dapat terjadi:

    • material tumpah
    • bucket collision
    • belt overload
    • kerusakan head/tail section
  1. Dust control pada feed mill

Feed mill menghasilkan banyak debu.

Bucket elevator sebaiknya:

    • casing tertutup
    • memiliki dust-tight construction
    • memiliki inspection door yang baik
    • menggunakan seal pada shaft
    • memiliki dust extraction pada titik yang sesuai

Untuk material tertentu, explosion protection juga harus dipertimbangkan karena debu grain dapat menjadi combustible dust.

Jadi desain feed mill tidak hanya masalah mechanical conveyor tetapi juga:

dust + fire + explosion safety.

  1. Hindari material menumpuk di boot

Bagian bawah elevator disebut:

boot section.

Ini merupakan salah satu titik paling kritis.

Jika material menumpuk di boot:

    • bucket bisa terbenam
    • motor overload
    • belt slip
    • bucket rusak
    • belt rusak

Karena itu boot sebaiknya memiliki:

    • clean-out door
    • level sensor
    • proper inlet
    • sufficient clearance
    • easy maintenance access
  1. Take-up system

Belt elevator membutuhkan sistem tensioning.

Bisa berupa:

    • screw take-up
    • gravity take-up

Untuk elevator yang panjang dan critical, gravity take-up sering memberikan keuntungan karena tension lebih konsisten.

Fungsinya:

    • menjaga belt tension
    • mengkompensasi elongation
    • mencegah slip
  1. Pulley dan lagging

Head pulley biasanya mendapatkan beban tinggi.

Lagging dapat membantu:

    • meningkatkan friction
    • mengurangi belt slip
    • meningkatkan traction

Jika terjadi:

belt slip → heat generation → belt damage → potensi fire hazard.

Karena itu belt slip harus menjadi perhatian serius.

  1. Pemilihan gearbox

Motor:

Motor → coupling → gearbox → head shaft

Untuk elevator, gearbox harus diperiksa berdasarkan:

    • power
    • output torque
    • service factor
    • starting torque
    • belt tension
    • operating hours

Jangan hanya memilih gearbox berdasarkan HP motor.

  1. Bucket elevator setelah hammer mill

Setelah grinding:

Hammer mill → pneumatic/air conveying atau conveyor → bin

Tergantung desain plant.

Material yang sudah menjadi meal memiliki karakter berbeda dibandingkan grain.

Powder dapat:

    • menghasilkan debu
    • sulit mengalir
    • mudah carry-back

Untuk kondisi tersebut, desain bucket dan inlet sangat penting.

  1. Bucket elevator setelah pellet mill

Setelah pelletizing:

Pellet mill → conveyor → cooler → bucket elevator → screening/storage

Pada bagian ini, perhatian khusus diberikan pada:

    • pellet breakage
    • fines
    • temperature
    • moisture

Pellet yang baru keluar dari pellet mill biasanya masih panas.

Karena itu elevator harus dipastikan memiliki kemampuan menangani temperatur aktual material.

  1. Finished feed handling

Setelah pellet:

Cooler → screening → bucket elevator → finished feed bin

Kemudian:

Bin → bagging machine

atau:

Bin → bulk truck loading

Untuk pellet feed, gentle handling menjadi penting karena kita ingin menjaga:

pellet durability.

Terlalu banyak impact akan menghasilkan:

pellet → fines

yang menurunkan kualitas produk.

  1. Tipe conveyor yang umum di feed mill

Proses Conveyor yang umum
Truck receiving Chain/Belt conveyor
Grain horizontal Belt conveyor
Grain vertical Bucket elevator
Powder horizontal Screw conveyor
Heavy bulk Drag chain conveyor
Pellet horizontal Belt/chain conveyor
Pellet vertical Bucket elevator
Bagged feed Roller/belt conveyor
Loading truck Belt/chain conveyor
High elevation Bucket elevator
  1. Rekomendasi umum bucket elevator untuk feed mill 

    • Untuk grain/raw material:

Centrifugal bucket elevator + heavy-duty elevator belt + plastic/HDPE bucket sering menjadi pilihan yang ekonomis dan efisien.

    • Untuk pellet yang membutuhkan gentle handling:

Pertimbangkan:

Lower-speed continuous bucket elevator

atau desain bucket elevator yang memang ditujukan untuk gentle handling.

    • Untuk material oily:

Gunakan belt dengan compound yang sesuai terhadap minyak/lemak.

    • Untuk material abrasive:

Prioritaskan:

      • abrasion-resistant bucket
      • abrasion-resistant belt cover
      • wear-resistant liner
  1. Checklist desain bucket elevator

Sebelum menentukan unit, minimal kumpulkan data berikut:

Material

    • jenis material
    • bulk density
    • moisture
    • particle size
    • temperature
    • abrasiveness
    • oil/fat content
    • flowability

Capacity

    • normal capacity
    • peak capacity
    • required margin

Elevator

    • vertical height
    • center distance
    • belt speed
    • bucket spacing
    • bucket volume
    • bucket material

Belt

    • tensile strength
    • number of plies
    • EP/NN
    • cover grade
    • oil resistance
    • temperature resistance
    • belt thickness

Mechanical

    • head pulley diameter
    • tail pulley diameter
    • shaft diameter
    • bearing
    • gearbox
    • motor
    • take-up

Safety

    • belt alignment sensor
    • speed sensor
    • bearing temperature monitoring
    • explosion protection
    • emergency stop
    • backstop

Kesimpulan

Untuk feed mill, bucket elevator merupakan equipment yang sangat penting karena memungkinkan pemindahan grain, meal, pellet, dan bahan granular secara vertikal dengan kapasitas besar dan footprint kecil.

Namun, umur bucket elevator tidak hanya ditentukan oleh kualitas bucket. Yang paling menentukan justru kombinasi belt + bucket + bucket spacing + speed + loading + pulley + take-up + alignment + sensor protection.

Untuk aplikasi feed mill, saya sangat menyarankan jangan menentukan belt hanya berdasarkan tulisan seperti EP 500/3 atau EP 800/4. Belt harus dihitung berdasarkan vertical lift, material load, bucket weight, belt weight, pulley diameter, acceleration, safety factor, dan bucket attachment load.

Jika Anda ingin, saya juga bisa membuat contoh desain lengkap bucket elevator untuk feed mill kapasitas 100 ton/jam dan elevasi 25 meter, mulai dari pemilihan ukuran bucket, jumlah bucket, bucket spacing, lebar belt, EP belt, diameter pulley, belt tension, daya motor HP, gearbox ratio, sampai estimasi torque shaft.

Rekomendasi yang sesuai untuk pemakaian rubber conveyor belts di industri feed mill (pakan ternak) adalah rubber conveyor belt DURABELT dari Duravaz. Dengan spesifikasi EP 125, Durabelt memiliki ketahanan terhadap kemuluran serta kekuatan tarik 25% lebih baik dibandingkan onveyor belt EP 100.

Filed Under: Conveyor Belt, Heavy Duty, Material Handling Tagged With: conveyor belt, industri, material handling

7 Kriteria Pemilihan Supplier Rubber Conveyor yang Tepat

August 29, 2026 by Duravaz

Rubber conveyor belt merupakan salah satu komponen penting dalam sistem material handling. Pada industri seperti pertambangan batu bara, batu andesit, batu putih (lime stone), semen (cement plant), readymix / batching plant, beton pracetak (precast), pupuk (fertilizer) hingga berbagai industri manufaktur, kualitas conveyor belt sangat berpengaruh terhadap kontinuitas produksi.

Namun, memilih rubber conveyor tidak cukup hanya berdasarkan harga per meter. Belt dengan harga lebih murah belum tentu memberikan biaya operasional yang lebih rendah. Sebaliknya, belt dengan harga lebih tinggi dapat menjadi pilihan yang lebih ekonomis apabila memiliki umur pakai lebih panjang, sesuai dengan karakteristik material, dan didukung supplier yang mampu memberikan layanan teknis.

Karena itu, pemilihan supplier rubber conveyor perlu dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa kriteria teknis dan komersial.

Berikut adalah 7 kriteria utama yang perlu diperhatikan.

 

  1. Kemampuan Supplier Memahami Kebutuhan Aplikasi

Kriteria pertama dan paling penting adalah kemampuan supplier memahami kondisi aktual penggunaan conveyor.

Supplier yang baik seharusnya tidak hanya bertanya:

“Berapa lebar belt yang dibutuhkan?”

Tetapi juga perlu memahami keseluruhan aplikasi, seperti:

    • Jenis material yang diangkut
    • Bulk density material
    • Kapasitas conveyor dalam ton/jam
    • Ukuran material atau lump size
    • Kecepatan belt
    • Panjang conveyor
    • Inclination atau kemiringan conveyor
    • Temperatur material
    • Kondisi lingkungan
    • Kondisi loading dan discharge
    • Jenis idler
    • Diameter pulley
    • Take-up system
    • Kondisi tracking belt
    • Jam operasi per hari
    • Potensi impact dan abrasion

Sebagai contoh, conveyor yang membawa batu kapur dengan ukuran material besar akan membutuhkan karakteristik belt yang berbeda dibandingkan conveyor yang membawa material powder.

Material yang tajam dan abrasif membutuhkan perhatian lebih besar terhadap abrasion resistance, sedangkan material dengan ukuran besar dan proses loading yang berat membutuhkan belt dengan kemampuan impact resistance yang baik.

Mengapa hal ini penting?

Kesalahan dalam pemilihan spesifikasi dapat menyebabkan:

    • Belt cepat aus
    • Belt mengalami longitudinal tear
    • Cover retak
    • Ply mengalami separation
    • Belt mudah tracking keluar
    • Splice cepat rusak
    • Downtime meningkat

Karena itu, supplier sebaiknya berperan sebagai technical partner, bukan hanya sebagai penjual belt.

 

  1. Ketersediaan yang Memadai dan Kesesuaian Spesifikasi Rubber Conveyor

Supplier yang tepat harus mampu menyediakan belt yang umum digunakan dan memiliki spesifikasi standar yang memadai

Beberapa parameter yang perlu diperhatikan antara lain:

    • Belt Width Yang Umum

Lebar belt harus disesuaikan dengan kapasitas, belt speed, karakteristik material, dan desain conveyor.

Contohnya:

      • 400 mm
      • 500 mm
      • 600 mm
      • 650 mm
      • 800 mm
      • 000 mm
      • 200 mm
      • 400 mm

dan seterusnya.

Jangan memilih belt hanya berdasarkan “belt yang tersedia”, karena kapasitas dan desain conveyor harus menjadi dasar utama.

    • Belt Strength

Belt strength biasanya dinyatakan dalam:

EP rating, misalnya:

      • EP 315
      • EP 400 (misal EP 100 x 4 Ply)
      • EP 500 (misal EP 125 x 4 Ply)
      • EP 630
      • EP 800
      • EP 1000

Semakin tinggi tensile strength, semakin tinggi kemampuan belt menahan tegangan tarik. Rubber Conveyor Belt EP 125 memiliki kekuatan tarik 25% lebih kuat dari EP 100.

Namun, pemilihan tetap harus mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti belt length, beban, karakteristik material, tension, pulley diameter, loading condition, dan safety factor.

    • Number of Plies

Contohnya:

      • 2 ply
      • 3 ply
      • 4 ply
      • 5 ply

Jumlah ply harus disesuaikan dengan konstruksi belt dan kebutuhan tensile strength.

    • Cover Grade

Cover rubber harus dipilih berdasarkan material yang dibawa.

Untuk aplikasi yang membutuhkan ketahanan abrasi, biasanya digunakan rubber grade dengan abrasion resistance yang baik.

Contohnya dapat berupa:

      • General Purpose (Serba Guna)
      • Abrasion Resistant (Tahan Abrasi)
      • Heat Resistant (Tahan Panas)
      • Oil Resistant (Tahan Minyak)
      • Flame Resistant (Tahan Bara)
      • Chemical Resistant (Tahan Bahan Kimia)

Supplier yang kompeten harus dapat menjelaskan mengapa suatu grade direkomendasikan, bukan hanya menawarkan satu tipe belt.

  1. Kualitas dan Konsistensi Produk

Harga murah akan menjadi tidak ekonomis apabila kualitas belt tidak konsisten.

Supplier perlu memiliki kontrol kualitas terhadap:

    • Tensile strength
    • Elongation
    • Cover thickness
    • Rubber hardness
    • Abrasion resistance
    • Adhesion strength
    • Ply bonding
    • Belt thickness
    • Dimensional tolerance
    • Joint/splice compatibility

Untuk kebutuhan industri, supplier juga sebaiknya dapat menyediakan technical datasheet

Hal yang perlu diperiksa

Jangan hanya melihat merek atau tulisan pada belt.

Perhatikan pula:

    1. Apakah spesifikasi aktual sesuai datasheet?
    2. Apakah kualitas antar-batch konsisten?
    3. Apakah supplier mampu memberikan dokumentasi teknis?
    4. Apakah belt dapat ditelusuri berdasarkan batch/lot?
    5. Apakah terdapat quality inspection sebelum pengiriman?

Untuk aplikasi kritis, konsistensi kualitas sering kali lebih penting daripada sekadar mendapatkan harga pembelian terendah. Merek rubber conveyor belt yang sangat direkomendasi karena menawarkan kualitas dan nilai ekonomis yang optimal adalah Rubber Conveyor Belt Vazpac EP 100 dan Rubber Conveyor Belt Duravaz EP 125 dari Duravaz yang bisa didapatkan di Central Teachnic Jakarta maupun Central Technic Surabaya.

  1. Kecepatan Penyediaan Yang Memadai

Availability merupakan faktor penting terutama pada industri yang memiliki target produksi tinggi.

Bayangkan sebuah quarry mengalami kerusakan belt utama. Produksi berhenti karena menunggu belt pengganti selama beberapa minggu.

Kerugian akibat downtime dapat jauh lebih besar dibandingkan selisih harga belt.

Karena itu, supplier yang baik seharusnya memiliki kemampuan dalam:

    • Menyediakan berbagai belt width
    • Menyediakan berbagai EP rating
    • Menyediakan pilihan rubber grade
    • Menyediakan belt roll dengan panjang sesuai kebutuhan
    • Menyediakan endless belt apabila diperlukan
    • Menyediakan spare belt
    • Melakukan cutting
    • Melakukan hot vulcanized joint atau splice jika tersedia
    • Menjaga stok produk fast-moving

 

  1. Kemampuan Technical Support dan After-Sales Service

Rubber conveyor bukan produk yang selesai urusannya setelah barang dikirim.

Masalah sering kali baru muncul setelah belt dipasang dan dioperasikan.

Contohnya:

    • Belt mistracking
    • Belt slip
    • Edge damage
    • Belt crack
    • Cover wear
    • Splice failure
    • Belt elongation
    • Pulley damage
    • Belt cleaner tidak optimal

Supplier yang baik seharusnya mampu membantu melakukan troubleshooting.

Technical support dapat mencakup:

    • Survey conveyor
    • Analisis aplikasi
    • Pemilihan belt
    • Pemeriksaan kondisi belt
    • Rekomendasi pulley
    • Rekomendasi belt cleaner
    • Pemeriksaan idler
    • Rekomendasi splice
    • Installation support
    • Commissioning
    • Troubleshooting
    • Preventive maintenance

Mengapa after-sales penting?

Misalnya sebuah belt memiliki umur pakai hanya 6 bulan, sedangkan target perusahaan adalah 12–18 bulan.

Supplier yang baik dapat membantu mencari penyebabnya.

Bisa saja masalah bukan berasal dari kualitas belt, tetapi dari:

    • Idler macet
    • Pulley misalignment
    • Belt cleaner terlalu agresif
    • Material loading tidak center
    • Impact terlalu tinggi
    • Belt tension tidak sesuai

Inilah perbedaan antara supplier dan technical partner.

  1. Total Cost of Ownership, Bukan Hanya Harga Beli

Salah satu kesalahan umum dalam purchasing adalah memilih belt berdasarkan harga termurah.

Padahal biaya sebenarnya bukan hanya:

Purchase Price

tetapi:

Total Cost of Ownership (TCO)

Secara sederhana:

TCO = Harga Belt + Installation Cost + Maintenance Cost + Downtime Cost + Replacement Cost

Sebagai contoh:

Supplier A

Harga belt: Rp100 juta
Umur pakai: 6 bulan

Supplier B

Harga belt: Rp130 juta
Umur pakai: 12 bulan

Jika hanya melihat harga pembelian:

Supplier A lebih murah.

Tetapi jika belt Supplier A harus diganti dua kali dalam periode 12 bulan:

Supplier A:

2 × Rp100 juta = Rp200 juta

Supplier B:

1 × Rp130 juta = Rp130 juta

Belum termasuk biaya:

    • Splicing
    • Tenaga kerja
    • Mobilisasi
    • Crane/equipment
    • Production downtime
    • Emergency replacement

Dengan demikian, supplier B sebenarnya bisa jauh lebih ekonomis.

Konsep penting

Jangan membeli rubber conveyor berdasarkan harga per meter saja. Hitung biaya per ton material yang berhasil diangkut atau biaya per jam operasi.

Pendekatan ini jauh lebih relevan untuk aplikasi industri.

  1. Reputasi, Pengalaman, dan Kemampuan Supply Jangka Panjang

Kriteria terakhir adalah kredibilitas supplier. Sudah berapa lama calon supplier bergerak di bidangnya.

Rubber conveyor biasanya digunakan dalam sistem yang memiliki umur operasi bertahun-tahun. Karena itu, supplier sebaiknya mampu mendukung kebutuhan perusahaan dalam jangka panjang.

Beberapa hal yang dapat diperiksa:

Pengalaman Industri

Apakah supplier memiliki pengalaman menangani:

    • Quarry
    • Mining (Pertambangan)
    • Cement plant (Industri Semen)
    • Steel industry
    • Fertilizer (Pupuk)
    • Palm oil (Industri Minyak Sawit)
    • Manufacturing

Supplier yang berpengalaman pada aplikasi yang sama biasanya lebih memahami permasalahan aktual di lapangan.

Reference / Porto Folio Customer

Apabila memungkinkan, mintalah referensi atau contoh aplikasi yang serupa.

Misalnya:

Siapa saja nama-nama terkemuka yang telah menjadi pelanggan setia calon supplier anda

Supply Continuity

Pastikan supplier memiliki kemampuan untuk menyediakan kembali belt dengan spesifikasi yang sama.

Hal ini penting karena perusahaan biasanya membutuhkan:

    • Replacement belt
    • Emergency stock
    • Spare belt
    • Additional conveyor
    • Expansion project

Konsistensi spesifikasi antara pembelian pertama dan berikutnya juga sangat penting.

Checklist 7 Kriteria Pemilihan Supplier Rubber Conveyor

Untuk mempermudah proses evaluasi, perusahaan dapat menggunakan tabel berikut.

No.

Kriteria

Pertanyaan yang Perlu Ditanyakan

1

Pemahaman aplikasi

Apakah supplier memahami kondisi conveyor dan material?

2

Spesifikasi

Apakah supplier dapat memberikan belt dengan EP, ply, cover dan grade yang sesuai?

3

Quality

Apakah tersedia datasheet dan test certificate?

4

Availability

Apakah supplier memiliki stok atau lead time yang dapat diandalkan?

5

Technical support

Apakah tersedia survey, troubleshooting dan installation support?

6

TCO

Apakah umur pakai dan biaya operasional diperhitungkan?

7

Reputasi & supply continuity

Apakah supplier memiliki pengalaman dan kemampuan supply jangka panjang?

Cara Memberikan Bobot Penilaian Supplier

Untuk perusahaan yang ingin melakukan vendor selection secara lebih objektif, setiap kriteria dapat diberi bobot.

Contoh:

Kriteria

Bobot

Pemahaman aplikasi

15%

Spesifikasi produk

20%

Quality & consistency

20%

Availability

10%

Technical support

15%

Total Cost of Ownership

15%

Reputasi & continuity

5%

Total

100%

Kemudian setiap supplier diberikan skor 1–5.

Nilai akhir = Skor × Bobot

Contohnya:

Supplier A memiliki skor 4 untuk quality dengan bobot 20%.

Maka:

4/5 × 20 = 16 poin

Seluruh nilai kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan total supplier score.

Metode ini membantu perusahaan menghindari keputusan yang hanya berdasarkan harga terendah.

Kesimpulan

Memilih supplier rubber conveyor yang tepat bukan hanya tentang menemukan produk dengan harga paling murah. Supplier yang ideal harus mampu memberikan kombinasi antara kualitas produk, kesesuaian spesifikasi, availability, technical support, dan biaya operasional yang kompetitif.

Tujuh kriteria yang perlu diperhatikan adalah:

  1. Kemampuan memahami kebutuhan aplikasi
  2. Kesesuaian spesifikasi rubber conveyor
  3. Kualitas dan konsistensi produk
  4. Availability dan kemampuan supply
  5. Technical support dan after-sales service
  6. Total Cost of Ownership
  7. Reputasi dan kemampuan supply jangka panjang

Pada akhirnya, supplier terbaik bukan selalu supplier dengan harga belt paling rendah, tetapi supplier yang mampu memberikan cost per operating hour atau cost per ton yang paling ekonomis, sekaligus membantu menjaga conveyor tetap beroperasi secara reliable.

Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat mengubah pemilihan rubber conveyor dari sekadar aktivitas purchasing menjadi bagian dari strategi reliability dan cost reduction.

Filed Under: Conveyor Belt, Heavy Duty, Material Handling Tagged With: conveyor belt, material handling, Rumus

Rubber Conveyor Belt untuk Industri Pertambangan

August 11, 2026 by Duravaz

Jenis, Klasifikasi, Standar Internasional, dan Panduan Pemilihan Conveyor Belt untuk Kondisi Tambang

Pertambangan merupakan salah satu industri dengan kondisi operasi paling berat bagi sistem conveyor. Material yang diangkut seperti batu bara, bijih besi, tembaga, nikel, emas, batu kapur, hingga overburden memiliki karakteristik abrasif, berat, tajam, bahkan mudah terbakar. Oleh karena itu, rubber conveyor belt yang digunakan di sektor pertambangan tidak dapat disamakan dengan conveyor belt untuk industri manufaktur atau logistik.

Pemilihan conveyor belt harus mempertimbangkan beberapa faktor utama, seperti tingkat abrasi material, risiko kebakaran, suhu material, kandungan minyak atau bahan kimia, lokasi pemasangan (underground atau overground), serta standar keselamatan yang berlaku. Di banyak negara, spesifikasi conveyor belt tambang mengacu pada standar internasional seperti DIN, ISO, JIS, AS, maupun standar keselamatan pertambangan lainnya. (ISO)

 

Karakteristik Conveyor Belt untuk Pertambangan

 

Rubber conveyor belt untuk pertambangan umumnya memiliki karakteristik berikut:

  • Cover rubber dengan ketahanan abrasi tinggi
  • Tensile strength tinggi
  • Ketahanan terhadap sobekan (tear resistance)
  • Ketahanan terhadap impact akibat jatuhnya material
  • Ketahanan terhadap cuaca (ozone dan UV)
  • Ketahanan terhadap minyak bila diperlukan
  • Anti-static dan flame resistant untuk area tambang batubara
  • Umur pakai panjang pada operasi 24 jam

Material carcass yang digunakan biasanya berupa:

  • EP (Polyester/Nylon)
  • NN (Nylon/Nylon)
  • Steel Cord
  • Solid Woven (khusus underground coal mining)

 

Jenis-Jenis Rubber Conveyor Belt di Industri Pertambangan

  1. Abrasion Resistant Conveyor Belt

Jenis ini merupakan conveyor belt yang paling banyak digunakan pada pertambangan terbuka (open pit mining).

Digunakan untuk:

    • Batu bara
    • Batu split
    • Batu kapur
    • Bijih besi
    • Nikel
    • Tembaga
    • Overburden
    • Pasir silika

Karakteristik:

    • Cover rubber keras
    • Sangat tahan gesekan
    • Tidak mudah aus
    • Cocok untuk material tajam

Semakin rendah nilai kehilangan volume (abrasion loss), semakin baik ketahanan belt terhadap keausan.

Klasifikasi JIS rubber conveyor belts berdasarkan ketahanan Abrasi

Berikut adalah tabel spesifikasi performa cover rubber untuk standar JIS (JIS-L, JIS-G, JIS-S, dll.) sebelum penuaan (before aging):

Grade Standar JIS Kekuatan Tarik Min. (MPa / kgf/cm²) Elongasi / Kelenturan            Min. (%) Kehilangan Abrasi Maks. (mm³) Karakteristik & Aplikasi  Penggunaan
JIS-L 8 MPa (~80 kgf/cm²) 300% 400 mm³ Karet umum untuk material bergesekan rendah dan tegangan sabuk rendah.
JIS-G 14 MPa (~140 kgf/cm²) 400% 250 mm³ Penggunaan umum (general purpose), tahan abrasi sedang (batu pecah, batu bara, batu kapur).
JIS-S 18 MPa (~180 kgf/cm²) 450% 200 mm³ Ketahanan abrasi tinggi, tahan terhadap sobekan (cut and gouge) dan benturan material tajam.
JIS-A 24 MPa (~250 kgf/cm²) 450% 120 mm³ Ketahanan abrasi tingkat tinggi superior untuk kondisi kerja berat/ekstrem.
JIS-D 14 MPa (~140 kgf/cm²) 400% 150 mm³ Spesifikasi khusus tambang dengan kontrol abrasi lebih baik dari JIS-G.
JIS-H 15 MPa (~150 kgf/cm²) 350% 200 mm³ Spesifikasi khusus lini operasional tertentu di area pertambangan.
Grade M (lama) 18 MPa (~180 kgf/cm²) 400% 90 mm³ Kualitas ekstra tahan abrasi setara standar DIN-M / RMA-1.

 

Klasifikasi Abrasion menurut DIN

Standar DIN 22102 (yang kini banyak diadopsi ke DIN EN/ISO) mengelompokkan kualitas cover berdasarkan sifat mekanik dan ketahanan abrasi. Kelas yang paling dikenal di industri meliputi:

Grade Abrasion Loss Maksimum Aplikasi
DIN W ≤ 90 mm³ Material sangat abrasif
DIN X ≤ 120 mm³ Material abrasif dengan risiko sobek lebih tinggi
DIN Y ≤ 150 mm³ Material abrasif sedang
DIN Z ≤ 250 mm³ Material umum dengan abrasi ringan

Semakin kecil nilai abrasion loss, semakin tinggi ketahanan belt terhadap keausan.

 

  1. Fire Resistant Conveyor Belt

Digunakan pada area dengan risiko kebakaran sedang hingga tinggi.

Contoh:

    • Coal handling plant
    • Power plant
    • Pelabuhan batu bara
    • Terminal batubara

Fitur:

    • Self extinguishing
    • Tidak mudah terbakar
    • Mengurangi penyebaran api
    • Anti-static

Belt jenis ini dirancang agar api padam dengan cepat setelah sumber nyala dihilangkan, sekaligus membatasi penyebaran api di sepanjang lintasan conveyor.

    • Fire Resistant Underground Conveyor Belt

Merupakan belt dengan persyaratan keselamatan paling tinggi.

Digunakan pada:

      • Underground coal mine
      • Tunnel mining
      • Shaft conveyor

Mengapa diperlukan?

Pada tambang bawah tanah terdapat:

      • Gas metana
      • Debu batubara
      • Ventilasi terbatas
      • Jalur evakuasi yang terbatas

Karena itu belt harus memiliki:

      • Flame resistant
      • Anti-static
      • Self extinguishing
      • Smoke generation rendah
      • Tidak mempercepat penyebaran api

Standar internasional seperti ISO 22721:2023 menetapkan persyaratan conveyor belt tekstil berlapis karet atau plastik untuk penggunaan di tambang bawah tanah, termasuk aspek konstruksi, dimensi, dan performa keselamatan. (ISO)

 

    • Fire Resistant Overground Conveyor Belt

Berbeda dengan underground belt.

Digunakan pada:

      • Coal stockpile
      • Port conveyor
      • Crusher plant
      • Coal yard
      • Power plant

Karena berada di area terbuka, tingkat ketahanan api yang dibutuhkan umumnya tidak seketat belt underground, namun tetap harus mampu mengurangi risiko penyebaran api pada sistem conveyor.

  1. Heat Resistant Conveyor Belt

Digunakan apabila material masih bersuhu tinggi. Ketahanan panas biasanya antara 100 hingga 200 ◦C

Contoh:

    • Hot clinker
    • Sinter
    • Pellet
    • Slag
    • Hot limestone

Standar ISO 4195 mengatur persyaratan dan metode uji untuk conveyor belt dengan cover rubber tahan panas, termasuk perubahan sifat mekanik setelah paparan temperatur tinggi. (ISO)

  1. Oil Resistant Conveyor Belt

Digunakan pada material yang mengandung minyak.

Contoh:

    • Oil sand
    • Fertilizer
    • Biomass
    • Waste recycling

Minyak dapat menyebabkan cover rubber mengembang (swelling), melunak, dan mempercepat kerusakan apabila menggunakan belt standar.

  1. Steel Cord Conveyor Belt

Digunakan untuk:

    • Tambang terbuka
    • Long distance conveyor
    • High capacity conveyor

Kelebihan:

    • Tensile sangat tinggi
    • Stretch sangat kecil
    • Cocok untuk conveyor panjang
    • Umur pakai lebih lama
  1. Chevron Conveyor Belt

Digunakan apabila conveyor memiliki kemiringan.

Biasanya dipakai untuk:

    • Crusher
    • Quarry
    • Stockpile
    • Loading hopper

Profil chevron membantu mencegah material meluncur kembali pada conveyor yang menanjak.

 

Standar Internasional yang Umum Digunakan

Standar Negara/Organisasi Fungsi
ISO 22721 ISO Conveyor belt tekstil untuk tambang bawah tanah
ISO 340 ISO Uji flame resistance
ISO 284 ISO Persyaratan antistatik
ISO 4195 ISO Conveyor belt tahan panas
DIN 22102 / DIN EN Jerman Klasifikasi abrasion grade dan sifat mekanik
JIS K 6369* Jepang Conveyor belt berbahan karet dan metode pengujian
AS 4606 Australia Conveyor belt tahan api untuk tambang bawah tanah
EN 12882 Eropa Persyaratan flame-resistant untuk conveyor belt di atas permukaan
EN 14973 Eropa Conveyor belt untuk penggunaan bawah tanah

*Di Jepang, spesifikasi conveyor belt juga mengacu pada beberapa standar JIS lain tergantung jenis belt dan metode pengujiannya.

Perbedaan Underground dan Overground Belt

Parameter Underground Overground
Flame Resistant Sangat tinggi Tinggi
Anti Static Wajib Umumnya direkomendasikan
Smoke Toxicity Dikendalikan Tidak seketat underground
Risiko Kebakaran Sangat tinggi Sedang
Harga Lebih mahal Lebih ekonomis

 

Bagaimana Memilih Conveyor Belt untuk Tambang?

Beberapa parameter yang harus dianalisis sebelum menentukan spesifikasi belt meliputi:

  • Jenis material (batubara, batu kapur, nikel, bijih besi, dan lain-lain)
  • Ukuran maksimum material
  • Tingkat abrasivitas
  • Kapasitas (ton/jam)
  • Kecepatan belt
  • Panjang conveyor
  • Sudut kemiringan
  • Lokasi pemasangan (indoor, outdoor, underground)
  • Temperatur material
  • Risiko kebakaran
  • Standar keselamatan yang diwajibkan oleh proyek atau regulasi

Sebagai contoh:

  • Batubara di stockpile: abrasion resistant + fire resistant.
  • Tambang batubara bawah tanah: flame resistant + antistatic + standar underground.
  • Crusher batu andesit: abrasion resistant grade tinggi (misalnya DIN W).
  • Conveyor sinter atau clinker: heat resistant.

 

Kesimpulan

Rubber conveyor belt untuk industri pertambangan tersedia dalam berbagai tipe yang dirancang sesuai kondisi operasi. Untuk aplikasi dengan material sangat abrasif, abrasion resistant belt merupakan pilihan utama. Pada area dengan risiko kebakaran, terutama tambang batubara, diperlukan fire resistant atau fire resistant underground conveyor belt yang memenuhi persyaratan keselamatan seperti ISO 22721, ISO 340, ISO 284, atau AS 4606, sedangkan aplikasi umum sering masih mengacu pada klasifikasi DIN untuk kualitas cover rubber dan ketahanan abrasi. Pemilihan conveyor belt yang tepat tidak hanya meningkatkan umur pakai belt, tetapi juga mengurangi downtime, meningkatkan keselamatan kerja, dan menekan biaya operasi jangka panjang. (ISO)

Selain conveyor pemakaian umum (general purpose) yang ready stock, conveyor Durabelt juga dapat dipesan sesuai spesifikasi dan standar industri yang diinginkan, termasuk :

  • Abrasion Resistant (Tahan Abrasi)
  • Tahan Panas (Heat Resistant)
  • Fire Resistant
  • Oil Resistant (Tahan Minyak)
  • Steel Cord

 

Filed Under: Conveyor Belt, Heavy Duty, Material Handling Tagged With: conveyor belt, industri, material handling

Mengenal Light Duty Conveyor Systems : Jenis, Material, Aplikasi Industri, dan Kapan Menggunakan Rubber Conveyor

August 5, 2026 by Duravaz

Pendahuluan

Conveyor belts atau sabuk konveyor merupakan salah satu komponen terpenting dalam sistem material handling modern. Berdasarkan kapasitas dan karakteristik material yang dipindahkan, conveyor secara umum dibagi menjadi light duty conveyor dan heavy duty conveyor.

Light duty conveyor dirancang untuk memindahkan produk dengan beban ringan hingga menengah, biasanya pada proses manufaktur, pengemasan, makanan, farmasi, elektronik, hingga logistik. Sistem ini menawarkan kecepatan tinggi, tingkat kebersihan yang baik, konsumsi energi rendah, dan biaya operasional yang relatif ekonomis.

Sebaliknya, heavy duty conveyor umumnya menggunakan rubber belt untuk menangani material curah seperti batu, pasir, batubara, semen, pupuk, hingga bijih tambang.

 

Apa itu Light Duty Conveyor?

Light duty conveyor adalah sistem konveyor yang digunakan untuk mengangkut produk dengan berat relatif ringan hingga sedang, umumnya:

  • Karton
  • Botol
  • Kemasan makanan
  • Produk farmasi
  • Elektronik
  • Komponen otomotif
  • Produk tekstil
  • Barang retail
  • Parcel

Kapasitasnya biasanya berkisar beberapa kilogram hingga ratusan kilogram per meter conveyor tergantung desain rangka dan belt.

Keunggulan light duty conveyor meliputi:

  • Instalasi mudah
  • Perawatan sederhana
  • Operasi lebih bersih
  • Tingkat kebisingan rendah
  • Cocok untuk proses otomatisasi
  • Hemat energi

 

Jenis-Jenis Light Duty Conveyor

  1. PVC Conveyor Belt

PVC (Polyvinyl Chloride) merupakan belt conveyor yang paling banyak digunakan pada industri umum.

Karakteristik:

    • Permukaan halus
    • Harga ekonomis
    • Tahan terhadap kelembapan
    • Ringan
    • Mudah dibersihkan

Aplikasi:

    • Industri makanan kering
    • Gudang
    • Logistik
    • Packaging
    • Percetakan
    • Industri plastik
    • E-commerce

Kelebihan:

    • Harga paling ekonomis
    • Banyak pilihan warna
    • Banyak pilihan ketebalan
    • Mudah disambung

Kekurangan:

    • Tidak tahan temperatur tinggi
    • Kurang tahan minyak dibanding PU

 

  1. PU Conveyor Belt

PU (Polyurethane) merupakan conveyor belt premium yang banyak digunakan pada industri makanan.

Karakteristik:

    • Food grade
    • Sangat tahan abrasi
    • Fleksibel
    • Tahan minyak dan lemak
    • Mudah dibersihkan

Aplikasi:

    • Industri daging
    • Bakery
    • Seafood
    • Dairy
    • Frozen food
    • Pengolahan buah
    • Pengolahan sayur

Kelebihan:

    • Sangat higienis
    • Umur pakai panjang
    • Cocok untuk kontak langsung dengan makanan

Kekurangan:

    • Harga lebih mahal dibanding PVC

 

  1. Modular Plastic Conveyor

Modular conveyor terdiri dari modul-modul plastik yang dirangkai menjadi belt.

Material:

    • Polypropylene (PP)
    • Polyethylene (PE)
    • Acetal (POM)

Keunggulan:

    • Mudah mengganti bagian yang rusak
    • Tahan air
    • Tidak mudah sobek
    • Mudah dibersihkan

Banyak digunakan pada:

    • Industri minuman
    • Industri makanan
    • Pabrik pengalengan
    • Car wash
    • Otomotif
    • Packaging

Sangat cocok untuk conveyor yang memiliki tikungan atau jalur kompleks.

 

  1. Table Top Chain Conveyor

Table top conveyor menggunakan rantai plastik atau stainless steel dengan permukaan datar.

Material:

    • Acetal
    • Stainless Steel 304
    • Stainless Steel 316

Aplikasi:

    • Botol minuman
    • Kaleng
    • Industri farmasi
    • Kosmetik
    • Produk rumah tangga

Keunggulan:

    • Stabil
    • Presisi tinggi
    • Cocok untuk line filling
    • Cocok untuk high speed production

 

  1. Wire Mesh Conveyor

Wire mesh conveyor menggunakan anyaman kawat logam.

Material:

    • Stainless Steel 304
    • Stainless Steel 316
    • Carbon Steel

Aplikasi:

    • Oven
    • Pendinginan
    • Freezer
    • Pencucian produk
    • Drying process
    • Heat treatment

Keunggulan:

    • Tahan temperatur tinggi
    • Aliran udara sangat baik
    • Mudah dibersihkan
    • Drainase sangat baik

 

  1. Timing Belt Conveyor

Timing belt conveyor menggunakan belt bergigi sehingga tidak terjadi slip.

Digunakan pada:

    • Mesin otomatis
    • Pick and place
    • Robot
    • Packaging machine
    • Industri elektronik

Keunggulan:

    • Posisi produk sangat presisi
    • Sinkron dengan servo motor

 

  1. Roller Conveyor

Roller conveyor tersedia dalam tipe:

    • Gravity Roller
    • Powered Roller

Aplikasi:

    • Gudang
    • Distribution center
    • Bandara
    • Courier
    • E-commerce

Cocok untuk:

    • Karton
    • Box
    • Pallet ringan

 

Material yang Digunakan pada Light Duty Conveyor System

Komponen Material Umum
Belt PVC, PU, Silicone, Felt
Modular Belt PP, PE, POM
Table Top Chain Acetal, Stainless Steel
Wire Mesh Stainless Steel, Carbon Steel
Roller Galvanized Steel, Stainless Steel, PVC
Frame Mild Steel Painted, Galvanized Steel, Stainless Steel, Aluminium Profile
Pulley Aluminium, Steel, Stainless Steel
Bearing Chrome Steel, Stainless Steel

 

Industri yang Menggunakan Light Duty Conveyor

Berbagai sektor industri memanfaatkan light duty conveyor sesuai karakteristik produknya.

Industri Conveyor yang Umum Digunakan
Makanan PU, Modular, Wire Mesh
Minuman Table Top, Modular
Farmasi PU, PVC
Elektronik Timing Belt, PVC
Otomotif Modular, Roller
Kosmetik Table Top
Gudang Roller, PVC
E-commerce Roller, PVC
Percetakan PVC
Tekstil PVC, Felt
Pengolahan Daging PU, Modular
Bakery PU, Wire Mesh
Frozen Food PU, Wire Mesh

 

Apakah Warna Conveyor Belt Memiliki Tujuan Tertentu?

Ya. Warna conveyor belt bukan hanya untuk estetika, tetapi juga memiliki fungsi operasional, higienitas, dan keselamatan.

  • Putih

Paling umum digunakan pada industri makanan.

Alasan:

    • Mudah melihat kontaminasi
    • Memenuhi standar higienitas
    • Memudahkan inspeksi kebersihan
  • Biru

Sangat populer pada industri makanan.

Keunggulan:

    • Jarang ditemukan secara alami pada bahan makanan sehingga serpihan belt lebih mudah terlihat.
    • Memudahkan inspeksi visual.
  • Hijau

Banyak digunakan pada:

    • Packaging
    • Logistik
    • General manufacturing

Merupakan warna standar yang paling umum pada PVC conveyor.

  • Hitam

Umumnya digunakan pada:

    • Industri umum
    • Otomotif
    • Gudang
    • Material handling

Lebih tahan terhadap tampilan noda dan kotoran.

  • Abu-Abu

Sering digunakan pada:

    • Farmasi
    • Elektronik
    • Clean room

Memberikan tampilan bersih dan profesional.

  • Transparan

Biasanya digunakan pada aplikasi khusus yang memerlukan sensor optik atau inspeksi visual dari bawah conveyor.

Kapan Menggunakan Rubber Conveyor?

Rubber conveyor termasuk kategori heavy duty conveyor dan lebih tepat dipilih ketika aplikasi membutuhkan ketahanan terhadap beban tinggi, benturan, atau kondisi lingkungan yang berat.

Rubber conveyor lebih tepat digunakan apabila:

  • Mengangkut batu pecah
  • Pasir
  • Batubara
  • Bijih tambang
  • Semen
  • Pupuk
  • Kayu
  • Limbah industri
  • Material abrasif
  • Material tajam
  • Material panas (dengan belt khusus)
  • Conveyor sangat panjang
  • Kapasitas material sangat besar

Contoh industri:

  • Pertambangan
  • Quarry
  • Pabrik semen
  • PLTU
  • Pelabuhan
  • Industri pupuk
  • Kelapa sawit
  • Pabrik gula
  • Industri kayu

 

Perbandingan Light Duty Conveyor dan Rubber Conveyor

Faktor Light Duty Conveyor Rubber Conveyor
Beban Ringan–menengah Menengah–sangat berat
Produk Barang satuan Material curah
Kecepatan Tinggi Sedang
Kebersihan Sangat baik Sedang
Food Grade Ya (PU/PVC tertentu) Umumnya tidak
Panjang Conveyor Pendek–menengah Menengah–sangat panjang
Biaya Lebih ekonomis Lebih tinggi
Ketahanan Abrasi Sedang Sangat tinggi

 

Kesimpulan

Pemilihan conveyor yang tepat harus mempertimbangkan jenis produk, kapasitas, kondisi lingkungan, persyaratan higienitas, dan biaya siklus hidup (life cycle cost). Untuk produk kemasan, makanan, farmasi, elektronik, dan logistik, light duty conveyor seperti PVC, PU, modular, table top, wire mesh, atau timing belt memberikan efisiensi tinggi serta kemudahan perawatan.

Di sisi lain, apabila material yang dipindahkan berupa material curah dengan beban besar, sifat abrasif, atau membutuhkan lintasan yang panjang, maka rubber conveyor tetap menjadi solusi paling andal. Dengan memahami karakteristik setiap jenis conveyor dan material penyusunnya, perusahaan dapat memilih sistem material handling yang lebih efisien, aman, dan ekonomis sesuai kebutuhan operasional.

Rubber conveyor belts atau sabuk konveyor karet andal dan terpercaya DURABELT dari DURAVAZ dapat menjadi pilihan utama untuk memperoleh kinerja sistem konveyor yang optimal.

 

Filed Under: Conveyor Belt, Heavy Duty, Light Duty, Material Handling Tagged With: conveyor belt, material handling, PVC

Penjelasan Lengkap Mengenai Tambang Batu

July 8, 2026 by Duravaz

Mengenai Tambang Batu (Quarry), Proses Produksi, Peralatan Mekanis, dan Produk yang Dihasilkan

 

Tambang batu (stone quarry) merupakan lokasi penambangan batuan yang bertujuan menghasilkan material agregat untuk kebutuhan konstruksi, infrastruktur, industri beton, hingga pertambangan. Material yang ditambang umumnya berupa batu kapur (limestone), andesit, basalt, granit, batu pasir (sandstone), dan berbagai jenis batuan keras lainnya.

 

Di Indonesia, hasil tambang batu menjadi bahan utama pembangunan jalan tol, bendungan, gedung, pelabuhan, rel kereta api, hingga proyek pertambangan.

 

Alur Proses Penambangan Batu

Secara umum proses produksi di quarry terdiri dari tahapan berikut:

Tahapan Produksi

  1. Survey dan Eksplorasi

Tahap awal bertujuan mengetahui:

    • kualitas batu
    • volume cadangan
    • tingkat kekerasan batu
    • kandungan mineral
    • umur tambang

Biasanya menggunakan:

    • drone mapping
    • GPS survey
    • geological mapping
    • pengeboran eksplorasi

 

  1. Drilling (Pengeboran)

Lubang dibuat menggunakan drilling rig.

Tujuan:

    • tempat peledakan
    • menentukan pola fragmentasi batu

Diameter lubang:

    • 64 mm
    • 76 mm
    • 89 mm
    • 102 mm
    • 115 mm

 

  1. Blasting (Peledakan)

Bahan peledak dimasukkan ke dalam lubang bor.

Hasil yang diinginkan:

    • batu pecah sesuai ukuran
    • memudahkan loading
    • mengurangi konsumsi crusher

Semakin baik hasil blasting maka biaya crushing semakin rendah.

 

  1. Loading

Setelah peledakan: excavator memuat batu menuju dump truck.

Peralatan:

    • Excavator 20–70 ton
    • Wheel Loader
    • Hydraulic Excavator

 

  1. Hauling

Material dibawa menuju crushing plant menggunakan:

    • Dump Truck
    • Off Highway Truck
    • Articulated Dump Truck
    • Crushing Plant

Bagian ini merupakan jantung produksi agregat.

Tujuan:

mengubah batu besar menjadi ukuran tertentu.

Umumnya terdiri dari:

    • Hopper
    • Feeder
    • Jaw Crusher
    • Cone Crusher
    • Vibrating Screen
    • Belt Conveyor
    • Stockpile

 

  1. Jaw Crusher (Primary Crusher)

Jaw Crusher merupakan mesin penghancur pertama (primary crusher).

Prinsip kerja:

    • batu masuk dari atas
    • satu jaw diam
    • satu jaw bergerak maju mundur
    • batu terjepit hingga pecah

Ukuran batu masuk : 500–1200 mm

Ukuran keluar : 100–250 mm

Kelebihan

    • konstruksi sederhana
    • mampu menghancurkan batu sangat keras
    • biaya perawatan rendah
    • kapasitas besar

Kekurangan

    • bentuk batu kurang kubikal
    • ukuran produk belum seragam

 

  1. Cone Crusher (Secondary Crusher)

Cone Crusher digunakan setelah Jaw Crusher.

Prinsip kerja:

Material dihancurkan di antara cone yang berputar dan bowl liner.

Ukuran masuk : 50–250 mm

Ukuran keluar : 5–50 mm

Keunggulan :

    • hasil lebih kubikal
    • kapasitas tinggi
    • konsumsi energi lebih rendah dibanding impact crusher
    • cocok untuk batu keras

Jenis:

    • Standard Cone
    • Short Head Cone
    • Hydraulic Cone
    • Multi-cylinder Cone
  1. Vibrating Screen

Setelah crushing, batu dipisahkan berdasarkan ukuran, menggunakan mesin pengayak dengan beberapa tingkat (deck) wire screen sesuai ukuran batu yang diinginkan

Contoh ukuran screen:

    • 40 mm
    • 20 mm
    • 10 mm
    • 5 mm

Material yang terlalu besar akan kembali ke cone crusher (closed circuit) menggunakan sistem conveyor.

Komponen utama:

    • conveyor belt
    • idler roller
    • drive pulley
    • tail pulley
    • take-up system
    • motor gearbox
    • scraper / belt cleaner

Keuntungan:

    • kapasitas besar
    • hemat energi
    • operasi kontinu
    • biaya operasional rendah

Peralatan Mekanis yang Digunakan

Peralatan

Fungsi

Drilling Rig

Membuat lubang peledakan

Excavator

Menggali dan memuat batu

Wheel Loader

Loading stockpile

Dump Truck

Mengangkut batu

Hopper

Penampung material

Vibrating Feeder

Mengatur aliran material

Jaw Crusher

Primary crushing

Cone Crusher

Secondary crushing

VSI Crusher

Membentuk batu kubikal (opsional)

Vibrating Screen

Penyaringan ukuran

Belt Conveyor

Transport material

Magnet Separator

Mengambil besi

Dust Collector

Mengurangi debu

Water Spray

Pengendalian debu

Setelah proses screening diperoleh beberapa ukuran agregat.

Produk Batu Yang Dihasilkan

  1. Batu Split 5–10 mm

    • Sering disebut:
    • Chips

Screening Aggregate

Penggunaan:

    • paving block
    • beton precast
    • aspal halus
  1. Batu Split 10–20 mm

Merupakan ukuran paling umum.

Penggunaan:

    • beton struktural
    • jalan beton
    • gedung
    • jembatan
  1. Batu Split 20–30 mm

Digunakan untuk:

    • pondasi
    • drainase
    • retaining wall
  1. Batu Split 30–50 mm

Digunakan untuk:

    • subbase jalan
    • pondasi berat
    • lapisan bawah konstruksi

 

  1. Batu Gajah (50–300 mm)

Ukuran besar.

Digunakan pada:

    • breakwater
    • penahan longsor
    • tanggul sungai
    • reklamasi pantai

 

  1. Abu Batu (Stone Dust)

Ukuran sangat halus.

Penggunaan:

    • paving block
    • mortar
    • campuran beton
    • lapisan perkerasan jalan

 

  1. Base Course

Campuran berbagai ukuran agregat.

Penggunaan:

    • pondasi jalan
    • jalan tol
    • area parkir
    • kawasan industri
  1. Boulder

Batu hasil blasting yang belum dihancurkan.

Digunakan untuk:

    • riprap
    • breakwater
    • dekorasi lanskap
    • pondasi bendungan

 

Contoh Alur Ukuran Material

Tahapan : Ukuran Material

Hasil blasting   : 500–1000 mm

Setelah Jaw Crusher : 100–250 mm

Setelah Cone Crusher  : 20–50 mm

Setelah Vibrating Screen : 5–40 mm sesuai spesifikasi

Produk akhir     Abu batu hingga batu gajah

 

 

 

Faktor yang Menentukan Kualitas Produk

 

Beberapa faktor utama yang memengaruhi kualitas agregat meliputi:

  • Kualitas batuan dari lokasi tambang
  • Pola dan kualitas peledakan
  • Pengaturan bukaan (Closed Side Setting/CSS) pada jaw crusher dan cone crusher
  • Kondisi liner jaw dan cone
  • Efisiensi vibrating screen
  • Stabilitas laju umpan (feed rate)
  • Perawatan belt conveyor dan sistem pemindahan material

 

Kesimpulan

Operasi tambang batu merupakan rangkaian proses terpadu mulai dari eksplorasi, pengeboran, peledakan, pengangkutan, penghancuran, penyaringan, hingga distribusi produk. Dalam sistem ini, Jaw Crusher berfungsi sebagai penghancur primer untuk mereduksi batu berukuran besar, sedangkan Cone Crusher melakukan penghancuran sekunder agar menghasilkan agregat dengan ukuran lebih seragam dan bentuk yang lebih kubikal. Setelah melalui proses penyaringan, diperoleh berbagai produk seperti abu batu, batu split (5–10 mm, 10–20 mm, 20–30 mm, 30–50 mm), base course, hingga batu gajah, yang masing-masing memiliki aplikasi spesifik pada konstruksi gedung, jalan raya, jembatan, drainase, tanggul, reklamasi pantai, dan proyek infrastruktur lainnya.

Gunakan selalu conveyor Vazpac untuk beban ringan hingga sedang dan conveyor Durabelt untuk beban berat yang merupakan solusi dari Duravaz agar proses produksi anda berjalan dengan efektif dan optimal namun tanpa harus melakukan pengeluaran berlebih. Untuk pemakaian dengan spesifikasi khusus seperti tahan abrasi, tahan panas (heat resistant), tahan minyak (oil resistant) dan lain sebagainya dengan standar internasional seperti JIS, DIN, AS dan lain sebagainya, conveyor Durabelt dapat diperoleh dengan pemesanan terlebih dahulu.

Filed Under: Crusher, Heavy Duty, Material Handling Tagged With: Crusher, material handling, Power Transmission

  • Page 1
  • Page 2
  • Go to Next Page »

Primary Sidebar

Products

Durabelt

Durajoint

Duralink

 

Links

Why Choose Duravaz?

FAQ

Social Media

About Us

Duravaz merupakan produsen produk industri yang menyediakan beragam solusi untuk industri, seperti conveyor, coupling, rantai transmisi, dan lainnya. Produk-produk kami dibuat dengan bahan berkualitas tinggi dan tahan lama, serta dirancang untuk memenuhi kebutuhan berbagai aplikasi industri. Kami siap menjadi mitra terpercaya untuk memenuhi kebutuhan industri Anda.

© 2026 Duravaz. All Rights Reserved.